Inimerupakan bentuk perbuatan baik terhadap diri sendiri karena telah menghargai dan mensyukuri kesehatan yang telah Tuhan berikan. 13. Menanam pohon di sekitar pekarangan rumah. Hal ini menjadi Perbuatan baik terhadap alam dan membuat lingkungan menjadi asri 14. Memberikan akses teatring hotspot untuk teman yang membutuhkan akses internet.
MemperkayaKhazanah Peserta Didik A. Sayang, Hormat, dan Patuh kepada Orang Tua 1. Makna Orang Tua bagi Anak Orang tua memiliki kedudukan inggi dalam Islam. Seiap anak memiliki kewajiban untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya.
Berbuatbaik adalah keharusan yang dilakukan setiap manusia. Ada banyak contoh perbuatan baik yang bisa kamu lakukan setiap hari. Tidak perlu besar, hal-hal kecil pun bisa berkesan bagi orang lain kok. Yuk, simak apa saja perbuatan baik yang bisa kamu lakukan dan dijadikan kebiasaan! Menelepon anggota keluarga dan mengatakan bahwa kamu menyayangi mereka. Memberikan tip []
Sepertiada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain." Roma 2:24. Kalau kamu baik ramah suka menolong. Pemaaf yang baik karena Allahmaka Tuhanmulah yang akan dipuji. Demikianlah hendaknya terangmu. bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik
Perbuatanbaik kita mengikuti keselamatan di dalam Kristus. Perbuatan baik bukan mendahului keselamatan. Dengan kata lain, kita berbuat baik karena sudah diselamatkan, bukan supaya diselamatkan. Keselamatan adalah sepenuhnya anugerah Allah, bukan hasil usaha kita (2:8-9).
Lingkunganyang kurang baik dapat menyeret remaja ke dalam perbuatan yang kurang baik pula, misalnya penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan minum-minuman keras. Untuk itu, kenakalan remaja merupakan masalah yang harus menjadi tangung jawab semua pihak. kalimat topik. 3) Kalimat topik di awal dan akhir paragraf
. Pertanyaan Jawaban Sederhananya, memperoleh keselamatan melalui perbuatan tampaknya benar menurut manusia. Salah satu keinginan manusia yang paling mendasar adalah untuk mengendalikan nasibnya, termasuk nasib kekalnya di akhirat. Keselamatan melalui perbuatan menarik karena menjunjung tinggi harga diri seseorang serta keinginannya untuk memegang kendali. Diselamatkan oleh perbuatan baik jauh lebih menarik daripada ide diselamatkan melalui iman saja. Manusia juga memiliki kesadaran tentang keadilan secara bawaan. Seorang ateis fanatik pun mempercayai adanya keadilan dan dapat membedakan yang benar dengan yang salah, walaupun ia tidak mempunyai dasar moralitas yang jelas dalam menarik kesimpulan. Pemahaman benar dan salah ini menuntut supaya “perbuatan baik” kita lebih banyak dibanding “perbuatan jahat,” jika kita ingin selamat. Oleh karena itu, ketika manusia menciptakan agama maka secara alami keselamatan melalui perbuatan baik akan diajarkan di dalamnya. Karena keselamatan melalui perbuatan baik sangat menggiurkan bagi khodrat berdosa manusia, teori tersebut menjadi dasar dari hampir setiap agama kecuali agama Kristen yang alkitabiah. Amsal 1412 menyatakan bahwa “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Keselamatan melalui perbuatan disangka benar oleh manusia, sehingga sudut pandang tersebut menjadi dominan. Inilah alasannya mengapa agama Kristen begitu berbeda dari agama yang lain – ialah satu-satunya agama yang mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah dan bukan karena perbuatan baik. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri” Efesus 28-9. Adapun alasan mengapa sudut pandang ini mendominasi, yakni karena manusia yang alami yang belum diperbarui Roh Kudus tidak sepenuhnya memahami kebejatannya atau kekudusan Allah. Hati manusia “tak dapat diduga, paling licik dari segala-galanya dan terlalu parah penyakitnya” Yeremia 179, dan kekudusan Allah melampaui segala batas Yesaya 63. Berdustanya hati kita mengaburkan parahnya kondisi hati kita yang sebenarnya, sehingga kita tidak dapat menyadari keadaan kita yang sebenarnya di hadapan Allah yang kekudusan-Nya juga melampaui segala akal kita. Namun kenyataannya masih saja tetap; keberdosaan kita dan kekudusan Allah ketika tercampur menjadikan upaya terbaik kita bak “kain kotor” di hadapan Allah yang kudus Yesaya 646; baca juga pasal 61-5. Anggapan bahwa perbuatan baik manusia dapat menetralkan perbuatan jahatnya adalah anggapan yang sangat bertolak belakang dengan pesan Alkitab. Tidak hanya itu, Alkitab menjelaskan bahwa tolak ukur Allah tidak kurang dari kesempurnaan 100 persen. Jika kita gagal memelihara satu saja bagian Hukum Allah, maka kita sama bersalahnya dengan seseorang yang telah melanggar semuanya Yakobus 210. Dengan demikian, tidak ada cara kita dapat diselamatkan jika keselamatan benar-benar tergantung pada perbuatan baik kita. Cara lain keselamatan melalui perbuatan dapat menyusup masuk ke denominasi dan aliran Kristen atau yang mengaku percaya dalam Alkitab ialah penyalah-tafsiran ayat seperti Yakobus 224 “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Jika kita membaca ayat ini di dalam konteksnya Yakobus 214-16, maka cukuplah jelas bahwa Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik adalah yang membenarkan kita di hadapan Allah; sebaliknya, ia menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan tercermin oleh perbuatan baik. Seseorang yang mengklaim sebagai Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan yang disengaja, imannya palsu atau “mati”, dan ia belum selamat. Yakobus sedang membedakan antara dua jenis iman – iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati. Ada terlalu banyak ayat yang menjelaskan bahwa seseorang tidak diselamatkan oleh perbuatan, sehingga orang Kristen tidak dapat berdalih. Titus 34-5 merupakan salah satu contohnya “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Perbuatan baik tidak menambah apapun kepada keselamatan kita, tetapi selalu menjadi ciri khas seseorang yang telah lahir baru. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; ialah bukti keselamatan. Walaupun konsep keselamatan melalui perbuatan mendominasi, Alkitab jelas menentangnya. Alkitab mengandung sangat banyak bukti bahwa keselamatan diberikan sebagai anugerah. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Mengapa keselamatan melalui perbuatan merupakan sudut pandang yang paling dominan?
Sebagaimana diketahui bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba pasti akan diperhitungkan dan pelakunya akan menerima balasan. Bila kebaikan yang dilakukan maka kebaikan pula yang akan ia terima. Bila sebaliknya maka sebaliknya pula. Balasan baik atau buruk yang diberikan Allah kepada hamba-Nya atas perbuatannya itu menunjukkan adanya keadilan dan rahmat kasih sayang Allah. Dari berbagai macam amalan yang diperbuat oleh manusia, dilihat dari sisi balasan yang akan didapatnya, perbuatan atau amalan setiap orang itu terbagi dalam tujuh kategori. Dalam hal ini Imam Nawawi dalam syarah kitab Arba’ȋn-nya menjelaskan الأعمال سبعة عملان موجبان وعملان واحد بواحد وعمل الحسنة فيه بعشرة وعمل الحسنة فيه بسبعمائة ضعف وعمل لا يحصى ثوابه إلا الله تعالى Artinya “Amal itu ada tujuh macam, yakni dua amalan yang memastikan, dua amalan di mana satu dibalas dengan satu, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat sepuluh pahala, amal kebaikan yang di dalamnya terdapat tujuh ratus kali lipat pahala, dan amalan yang tidak bisa menghitung pahalanya kecuali oleh Allah saja” Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarhul Arba’ȋn An-Nawawiyyah [Surabaya Maktabah Al-Hikmah, tt.], hal. 83. Dari ketujuh kategori amalan di atas, lalu amalan-amalan apa saja yang masuk pada masing-masing kategori itu? Berikut penjelasannya Pertama dan kedua, dua macam amalan yang memastikan adalah iman dan kufur. Orang yang beriman kepada Allah dan meninggal dunia dalam keadaan masih beriman serta tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, maka imannya itu memastikan ia masuk ke dalam surga. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الإِيمَانِ Artinya “Akan dikeluarkan dari api neraka orang yang di hatinya terdapat sebiji dzarah keimanan” Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Jâmi’ut Tirmidzi [Riyadh Baitul Afkar Ad-Dauliyah, tt.], hal. 421. Ini dapat dipahami bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan membawa keimanan kepada Allah sekecil, setipis, atau seringan apa pun kadar imannya itu, maka ia akan tetap dikeluarkan dari siksaan api neraka, meskipun—karena sangat tipis keimanannya dan sangat banyak dosanya—ia menjadi orang yang paling terakhir keluar dari nereka. Dan ketika seseorang dikeluarkan dari neraka maka tidak ada tempat baginya kecuali surga. Sedangkan orang kafir yang tidak beriman kepada Allah, hingga akhir hayatnya ia masih tetap dalam kekafirannya, maka kekafirannya itu memastikan ia masuk ke dalam api neraka. Di dalam Surat Al-Baqarah ayat 161-162 Allah berfirman إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ, خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ Artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mati dalam keadaan kafir mereka itu dilaknat oleh Allah, para malaikat, dan semua manusia. Mereka kekal di dalamnya. Tidak diringankan siksaan dari mereka dan mereka tidak pula diberi penangguhan.” Imam Baidlawi di dalam kitab tafsirnya menuturkan makna mereka kekal di dalamnya’ adalah kekal di dalam laknat atau kekal di dalam neraka Abdullah bin Umar Al-Baidlawi, Anwȃrut Tanzȋl wa Asrȃrut Ta’wȋl [Beirut Darul Rasyid 2000], jil. I, hal 154. Ketiga dan keempat, dua amalan yang satu dibalas dengan satu atau dibalas secara sepadan adalah perbuatan jelek dan keinginan untuk berbuat baik. Orang yang telah melakukan suatu kejelekan maka ia akan mendapatkan balasannya secara sepadan. Bila ia lakukan satu kali, maka ia dapatkan balasan satu kali. Bila ia lakukan dua kali, maka ia dapatkan balasannya dua kali. Begitu seterusnya. Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 160 وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ Artinya “Dan barang siapa yang datang dengan membawa kejelekan maka ia tidak dibalas kecuali yang semisalnya dan mereka tidak akan diperlakukan secara zalim.” Sementara itu, orang yang memiliki keinginan untuk melakukan suatu kebaikan, kemudian ia tak melakukan kebaikan itu karena adanya alasan tertentu, maka ia mendapatkan balasan satu kebaikan. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً .... Artinya “Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbagai perkara yang baik dan berbagai perkara yang jelek, kemudian menjelaskan hal tersebut. Maka barang siapa yang berkeinginan melakukan satu kebaikan kemudian ia tidak melakukannya, maka Allah mencatat kebaikan itu di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna...” Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahȋh Muslim [Indonesia Maktabah Dahlan, tt.], jil. I, hal. 118. Kelima, amalan yang pelakunya dibalas sepuluh kali lipat adalah amalan kebaikan secara umum. Siapa pun yang melakukan sebuah kebaikan maka ia mendapatkan pahala kebaikan itu sepuluh kali lipat. Firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 160 مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا Artinya “Barang siapa yang datang dengan membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.” Bahkan dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika seseorang membaca Al-Qur’an maka pahalanya bukan sepuluh kali lipat dari sekali baca, namun sepuluh kali lipat dari setiap huruf yang dibacanya. Keenam, amalan yang pelakunya mendapatkan balasan pahala tujuh ratus kali lipat adalah menginfakkan harta di jalan Allah. Berapa pun harta yang diinfakkan oleh seorang hamba, maka ia akan mendapatkan balasannya tujuh ratus kali lipat dari apa yang ia infakkan. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 261 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Artinya “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti satu biji yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana dalam masing-masing bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Dzat yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” Pahala tujuh ratus kali lipat bagi orang yang berinfak itu adalah pahala minimal. Bila Allah berkenan maka Allah akan melipatgandakan pahala tersebut lebih banyak lagi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Syekh Nawawi Banten dalam al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl menyebutkan bahwa pelipatgandaan pahala infak hingga lebih dari tujuh ratus kali lipat ini tergantung pada kadar keikhlasan dan kesusahan orang yang berinfak. Memahami apa yang disampaikan Syekh Nawawi di atas, bisa jadi dua orang yang berinfak dengan nominal yang sama akan mendapatkan pahala yang berbeda, karena—misalnya—kadar kesusahan kedua orang tersebut berbeda dalam mendapatkan harta. Sebagai contoh, seorang tukang becak dan seorang direktur perusahaan sama-sama berinfak seratus ribu rupiah. Bisa jadi si tukang becak mendapatkan pahala jauh lebih banyak dari sang direktur. Ini mengingat bagi seorang tukang becak mendapatkan uang seratus ribu perlu membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama. Berbeda dengan direktur yang bisa dengan mudahnya mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat dan tanpa harus menguras begitu banyak tenaga. Ketujuh, amalan yang pahalanya hanya diketahui oleh Allah saja adalah ibadah puasa. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits qudsi di mana Allah berfirman إِنَّ الصَّوْمَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ Artinya “Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Karena puasa adalah ibadah yang tidak terlihat oleh orang lain dan hanya Allah yang tahu bagaimana kadar dan kualitas puasa seseorang, maka Allah bertindak sendiri untuk memberikan pahalanya. Dan ketika Allah bertindak sendiri dalam memberikan pahala bagi orang yang berpuasa, ini menunjukkan betapa besar keutamaan ibadah puasa. Dari uraian di atas, satu hal yang dapat kita pahami adalah betapa besar dan luas rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Ketika seorang hamba melakukan sebuah kejelekan maka Allah tidak memberikan balasan kecuali balasan yang sepadan saja. Tak ada pelipatgandaan dalam hal dosa. Namun sebaliknya, ketika seseorang melakukan suatu kebaikan maka yang diberikan Allah adalah pelipatgandaan pahala yang hingga beratus kali dan bahkan hingga lipatan yang dikehendaki Allah Ta’ala. Wallahu a’lam. Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif dalam kepengurusan PCNU Kota Tegal.
Home/Pendidikan/Niat Yang Menjadi Awal Perbuatan Baik Desember 26, 2022 Pendidikan 108 ViewsSelamat datang di Katalistiwa, blog untuk berdiskusi seputar pembahasan soal pelajaran dari Perguruan Tinggi, SLTA, SMP dan SD. Kali ini Katalistiwa akan membahas sebuah Soal yang banyak ditanyakan di Ujian Sekolah, Pertanyaannya adalah Niat Yang Menjadi Awal Perbuatan BaikNiat Yang Menjadi Awal Perbuatan BaikJawabNiat memberi adalah salah satu awal dari perbuatan baik. Misalnya seseorang yang memiliki niat untuk bersedekah akan membuat seseorang termotivasi untuk bersedekah. Maka niat itu sangat penting untuk melakukan sesuatu. Perbuatan baik yang dilakukan juga harus dibarengi dengan niat yang baik dan tulus untuk detail soal tentang niat yang menjadi perbuatan baikTindakan niat tulus untuk melakukan sesuatu menjadi landasan yang kokoh yang di atasnya perbuatan atau perbuatan diridhai Allah. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa perbuatan seseorang tergantung pada niatnya saudara jika niat melakukan sesuatu itu ikhlas karena allah maa amalan yang dilakukan akan lebih mudah diridhoi Allah dalam niat juga merupakan bentuk kejujuran dilakukan dalam suatu praktik. Karena orang yang melakukan sesuatu dengan ikhlas biasanya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan dalam sangat penting bagi umat Islam untuk mengubah niatnya sesaat sebelum melakukan Pembahasan yang sudah kami rangkum oleh Tim dari berbagai sumber belajar. Semoga pembahasan ini bermanfaat, jangan lupa jika mempunyai jawaban lain kalian bisa menghubungi admin. Terimakasih
Maka itu Kita sering mendengar ungkapan “tekor-sedikit, kelak jadi bukit”. Hal-hal segara tidak selalu lahir dari jalan hidup besar. Hal lautan juga bisa lahir semenjak situasi-keadaan kecil maupun terlihat sepele, tapi lambat-laun menjadi osean. Yah seperti itu lah.., memang, kita gegares hanya mengawasi segala sesuatu dari “hasil”, tapi kita menaksirkan bahwa yang besar boleh saja lahir dari “proses” penumpukan yang katai-kecil maupun dianggap sepele alias dianggap tetik bengik. Bumbun pasir yang dulunya tetapi butir-butir kecil bisa menjadi gunung pasir, maupun sampai-sampai sahara luas. Keadaan itu lagi berperan dalam kehidupan kita. Kita sering menyepelekan hal-hal mungil, sedangkan hal yang mungil itu bernilai, bahkan sekiranya berakumulasi, hal-kejadian itu menjadi besar. Sadarkah kita bahwa segelas air putih akan tampak lain berarti jika disandingkan dengan minuman mewah bukan, tapi air putih boleh jadi lewat berarti untuk seseorang nan sangat keinginan di paruh jarang matahari. Perbuatan baik yang kecil burung laut kita anggap tidak bernilai. Membuang duri bersumber tengah jalan menjadi terpandang sepele, tapi kalau tidak disingkirkan, akan ada orang nan terluka. Jikalau ragam baik yang tampak sepele camar dilakukan, engkau akan menjadi tumpukan keefektifan yang besar. Sebaliknya, misalnya, mengunjing orang barangkali bagi kebanyakan kita dianggap sepele, tapi perbuatan kecil itu akan berbuntut negatif secara luas. Bayangkan doang, alangkah banyak kepanikan sosial, isu-isu, desas-desus, kepala putik, pembentukan opini, bahkan yang meski kasatmata, tapi termuat penggunjingan, akan berdampak besar, dan sistemik di mahajana. Tak doang perbuatan baik nan kecil, melainkan kelakuan jahat nan sekali lagi sekiranya rutin dilakukan, akan berdampak besar. Tidak ada dosa lautan, melainkan dosa-dosa kecil yang selalu dilakukan, demikian dikatakan dalam wahyu Islam. Dalam al-Qur`an, disebutkan, “Maka barangsiapa mengamalkan keefektifan seberat zarrah, niscaya engkau akan meluluk balasannya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat persabungannya” Qs. al-Zalzalah 7-8. Dua ayat bontot persisnya yaitu “penutup/ lanjutan yang berilmu kesimpulan” disebut dengan tafrî’ al-fadzlakah, bagi memberi motivasi alias galakan hendaknya orang berbuat fungsi targhîb dan bentakan agar orang tidak berbuat karas hati tarhîb. Penutup nan berisi penali merupakan penjelasan ayat sebelumnya adapun cak kenapa bani adam dikumpulkan dan cak kenapa mereka diperlihatkan hasil perbuatan mereka di dunia. Itu–sekali pula–karena kaidah yang berlaku ialah bahwa bisa jadi nan berbuat perbuatan, baik atau brutal, akan diberi balasan, sekecil apa pula perbuatan itu. Dua ayat di atas–karena merupakan prinsip–disebut oleh Rasul Muhammad seumpama “ungkapan ringkas, padat, dan satu-satunya” al-jâmi’ah al-fâdzdzah. Abdullâh ibn Mas’ûd menamai bahwa ayat ini yaitu ayat paling kecil tegas/ jelas keberlakuannya ahkam âyah dalam al-Qur`an. Suatu ketika Sha’sha’ah bin Nâjiyah, kakek al-Farazdaq, cak bertengger kepada Nabi Muhammad meminta untuk dibacakan ayat al-Qur`an. Kemudian Utusan tuhan memilih untuk mengimlakan kedua ayat ini. Sha’sha’ah berkomentar, “Cukuplah bagiku ayat ini. Segala nasehat telah berakhir. Aku lain peduli tidak mendengarkan ayat enggak dari al-Qur`an.” Komentar ini tentu harus dipahami dalam pengertian seperti itu terdahulu dan padatnya kandungan dalam ayat ini; tidak signifikan baginya bahwa ayat-ayat lain tidak penting. Tentu saja, ada sejumlah tidak serupa, seperti “kalau kalian mengamalkan baik, maka berarti kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat virulen, maka untuk diri kalian sendiri pun” Qs. al-Isrâ` 7. Kaedah ini dikategorikan oleh Umar bin Abdullâh al-Muqbil andai salah satu “kaedah Qur`aniyyah” ke-38 kerumahtanggaan karyanya, Qawâ’id Qur`âniyyah. Menurutnya, kaedah nan terkandung dalam ayat ini memuat prinsip kesamarataan dan pembalasan. Atas bawah ini, ulam-ulam dan sahabat Utusan tuhan Muhammad menerapkan kandungan ayat ini kerumahtanggaan praktik hayat. Misalnya, Aisyah r. anhâ tidak rikuh dan tidak malu untuk menderma dan juga menganjurkan orang kerjakan bersedekah meskipun belaka dengan sebiji kurma. Sebagai halnya keadaan serupa diterapkan makanya Umar bin al-Khaththâb. Internal sebuah hadîts, Nabi Muhammad bersabda, “Janganlah sama sekali kamu menganggap enteng kebaikan seberapa kembali jua, meskipun n domestik bentuk bertemunya kamu dengan saudaramu dengan wajah yang manis”. Intern peristiwa level kelebihan nan dilakukan, al-Syinqîthî dalam Adhwâ` al-Bayân mengklasifikasi level polah baik menjadi tiga level. Pertama, level terendah al-hadd al-adnâ, ialah melakukan baik ataupun melaksanakan kewajiban hanya sekadar melepaskan kewajiban, seperti membayar zakat. Tertulis dalam signifikasi ini yaitu menyumbang sunnat, meski dengan sebutir tamar, begitu juga dianjurkan dalam Qs. al-Zalzalah 7-8 ini. Kedua, level perdua atau sedang al-hadd al-awsath, yakni berbuat baik atau melaksanakan tanggung dengan kadar secukupnya kadar yang bisa sekadar menggugurkan kewajiban dan berbagi dengan kepentingan diri sendiri, seperti tergambar dari anjuran al-Qur`an mudahmudahan bersikap moderasi tidak berlebihan, tertulis internal menyumbang. Ketiga, level strata al-hadd al-aqshâ, yaitu mengerjakan baik atau melaksanakan beban cak bagi orang lain, walaupun dirinya sendiri memerlukannya, seperti yang dilakukan oleh kalangan Anshâr bagi maslahat gudi Muhâjirîn. Nah, jika satu perbuatan baik tampak berpangkal kuantitas tidak banyak, hanya sudah dilakukan semaksimal kemapuan dan dengan totalitas ketaatan kepada perintahnya, maka ragam sekecil itu kembali konstan signifikan. Seorang yang miskin kelihatannya harus merogoh saku lebih dalam jika ia bersedekah dengan seratus ribu dolar, karena pendapatannya enggak banyak. Kalau engkau bersedekah dengan lima desimal mili, jumlah itu boleh jadi masih dianggapnya besar, dan mutakadim bertindak adil antara hoki sosial dan properti pribadinya kepentingan diri sedniri, anak, dan istrinya. Berbeda dengan situasi itu, seorang milyarder kelihatannya tidak akan sukar jika ia berbsedekah dengan seratus ribu, karena hartanya luber dan pendapatannya banyak. Oleh karena itu, kebernilaian suatu perbuatan baik enggak dapat amung hanya dilihat dari kuantitas, melainkan dari kualitas berupa totalitas pengorbanan yang dilakukan. Seperti itu sekali lagi, berbuat baik kepada orang atau anak adam lain nan memerlukan akan lebih bernilai daripada kepada manusia nan terbatas atau sewaktu-waktu bukan memerlukan uluran tangan. Hadîts yang diuraikan berikut akan mengilustrasikan kejadian ini. Di samping itu, menyedekahkan sebagian lautan harta yang berbuntut terabaikannya hak-milik prinsipil momongan dan ayutayutan merupakan polah nan enggak bijak, karena kekurangan keseimbangan antara yang wajib dan yang sunnat. Penuturan Hadîts Pelecok satu hadîts yang memperketat alat pencernaan ayat di atas adalah hadîts yang dijelaskan di bawah ini. Dalam sebuah hadîts yang diriwayatkan maka dari itu Abû Hurairah disebutkan bahwa suka-suka seorang laki-laki dalam riwayat lain, adalah seorang pelacur Yahudi yang bepergian di sebuah jalan di dasar rumpil surya. Kamu suntuk kehausan. Kemudian ia menemukan sebuah sumur, lalu ia turun ke sendang dan menenggak dari air sumur tersebut. Sekeluarnya dari sendang, anda menemukan seekor anjing yang meluncur-julurkan lidah dan memakan petak basah karena sangat haus. Di benak manah laki-laki tersebut, terbayang bahwa anjing tersebut sangat kehausan seperti yang dialaminya baru saja. Ia juga pun turun ke sumur. Kedua sepatunya diisinya dengan air dan dipegangnya kedua sepatu tersebut dengan bacot sambil naik ke atas. Anjing itu pun akhirnya bisa meneguk dari air tersebut. Allah “akseptabel kasih” dapat diartikan membagi rahmat dan mengampuni dosa suami-laki tersebut. Dalam sebuah riwayat, Yang mahakuasa swt memasukkannya ke dalam kayangan. Fenomena menarik perasaan para sahabat. Mereka penasaran, kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. ”Apakah kami akan diberi pahala dengan berbuat baik kepada binatang?” Rasulullah saw. Menjawabnya singkat dan padat “Di setiap kerongkongan yang basah, ada pahala” perbuatan baik kepada setiap yang memiliki kehidupan ada pahala. Jawaban Rasulullah ini secara verbatim diartikan dengan “Di setiap jantung yang basah suka-suka pahala”. Tetesan air yang meletis kerongkongan setiap yang memiliki roh, apakah dabat, lebih-lebih manusia, ada pahala. Cak bertanya sahabat tersebut muncul yakni wajar, sama dengan halnya juga kita akan terpikat terhadap kejadian spesial ini. Pertama, hadits tersebut mengklarifikasi jasa baik yang dilakukan makanya seorang manusia kepada seekor binatang, suatu kejadian yang tak terbayangkan sebelumnya maka itu para sahabat. Tentu tidak akan menjadi persoalan jika ulah baik seorang makhluk kepada manusia. Kedua, binatang dimaksud lagi bukan binatang biasanya, melainkan anjing yang dipandang sebagai najis berat dalam Islam. Ketiga, jika kita berpatokan dengan suatu riwayat lain yang disebut dalam Riyâdh al-Shâlihîn, turunan tersebut bukanlah koteng maskulin, melainkan seorang putri perempuan geladak Yahudi. Pantas sekali dengan menyibuk kejadian individual ini, kemudian para sahabat penasaran dan menanya. N domestik kitab-kitab nan memuat penjelasan mengenai tujuan hadits tersebut, sama dengan Fath al-Bâri` karya Ibn Hajar al-Asqalânî dan Syarh Shahîh Muslim oleh Imam al-Nawawî, dijelaskan bahwa hadîts tersebut merupakan perintah cak bagi berbuat baik, termasuk kepada hewan. Kitab-kitab tersebut umumnya menerimakan batasan bahwa yang dimaksud hewan di sini yakni binatang yang dihormati dan nan tidak menyebabkan kemudaratan bagi manusia, bukan sebagaimana anjing gila nan mungkin bisa menggigit manusia. Dengan mengintai hadits ini dan penjelasannya syarh , Islam ternyata tidak tetapi mengajarkan “ihsân” melakukan baik tidak hanya kepada manusia, melainkan sekali lagi kepada semua basyar roh. Meski permukaan belakangnya spesifik, jawaban Rasulullah saw memuat ruang lingkupnya yang kian luas dan universal “setiap dalaman yang basah karena tetesan air yang diberikan bak jasa baik, terserah pahala”. Kata “kabidin rathbatin” kerumahtanggaan kitab-kitab penjelasan hadits diterjemahkan dengan setiap yang memiliki kehidupan atau nyawa turunan hidup. Bintang sartan, dengan idiom itu, dia kepingin menyatakan bahwa tidak sekadar orang dalam kejadian itu saja yang mendapat pahala, melainkan setiap tetesan air nan membasahi pembuluh, kiasan atau metapor perbuatan baik, yang dilakukan kepada setiap khalayak yang bernyawa, sosok atma, ada pemberontakan pahala yang disediakan maka dari itu Allah swt. Tambahan pula, dalam hadits tersebut, disebutkan Allah swt “berterima kasih” =memberi rahmat dan memasukkan individu tersebut ke kerumahtanggaan taman firdaus. Permulaan, Islam mengajarkan keluhuran budi. Perbuatan baik yang kerumahtanggaan pandangan kita tertumbuk pandangan sepele akan menjadi baik karena atas dasar bahwa hal itu bayangan berpangkal ketinggian kepribadian orang yang melakukannya. Alih-alih memperoleh imbalan, sebagaimana belalah dilakukan oleh manusia terhadap manusia bukan, manusia itu tentu tidak memperoleh terima kasih, karena toh yang diberikan kebajikannya merupakan dabat! Kebaikan tumbuh dari tanaman kebaikan sekali lagi. Niat hamba allah tersebut bakal mengamalkan baik karena keibaan sama dengan diceritakan hadîts itu akan memperoleh nilainya di sisi Allah swt, sang Halikuljabbar. Kedua, dalam hadits tersebut diceritakan bahwa sekeluarnya khalayak tersebut berbunga perigi selepas mendinginkan rasa hausnya, ia menemukan ketek yang terjulur lidahnya serampak meranggah kapling basah. Adv amat apa? Orang tersebut, memperkirakan segala nan terjadi puas anjing tersebut merupakan apa yang juga baru tetapi menjalari dirinya. Kita bisa memahami di sini bahwa ada keibaan, cak semau pemberlakuan apa nan menimpa insan enggak pula merayapi dirinya. Jadi, apa suka-suka privat perasaannya tentu akan cak semau pada sesuatu alias seseorang di luar dirinya. Ini kemampuan kita ikut ingin merasakan apa yang dirasakan maka itu anak adam lain. Prinsip ini teristiadat tumbuh dalam kebesaran kepribadian, adalah mengenai terserah hubungan timbal-serong recipocral. Internal al-Qur`an dinyatakan, “Janganlah satu kelompok orang menghina keramaian yang lain. Bisa jadi, nan dihina selayaknya ialah lebih baik terbit mereka yang menghina. Begitu juga para wanita terhadap wanita yang lain, karena bisa kaprikornus nan dihina sebenarnya makin baik daripada mereka yang menghina.” Ketiga, kita sebaiknya jangan memisalkan bahwa jasa baik sekecil apa pun tidak akan memiliki nilai. Bukankah kebernilaian sesuatu sesungguhnya tidak selalu puas ukuran kuantitas? Inilah nan disebutkan dalam al-Qur’an bahwa di masa yaumudin nanti, keadaan-hal yang terlihat sepele, apalagi yang besar, tidak akan dilewatkan semacam itu saja, melainkan diperhitungkan. “Ia tidak mengalfakan baik kesil maupun yang besar, melainkan dihitungnya, dan mereka akan menemukan apa nan telah mereka lakukan dihadirkan”. Setiap apa yang kita lakukan sekecil apa pun tidak berkarisma kini dan di sini, tapi akan berakibat besar. Itulah sebabnya, mengapa cuma membedakan yang dapat mengganggu jalan imâthat al-adzâ dalam Selam sudah lalu dianggap bagaikan riuk satu cagak dari 97 dalam riwayat lain, 67 simpang iman, padahal iman adalah yang paling fundamental internal agama ini. Kita karuan saja bukan akan menemukan lagi kasus anjing kemauan, tapi hamba allah-manusia di sekeliling kita, wujud makhluk yang tentu lebih mulia karena rahmat akalnya, yang tidak namun perlu makan dan menenggak, tapi pun membutuhkan ketenteraman, nyawa dalam suasana tenang dan tenteram tanpa kekerasan. Bukankah berbuat baik ihsân dalam pengertian itu kepada manusia lebih bernilai tinimbang binatang seperti dalam hadîts itu? Berbuat baik juga mengandung konotasi lakukan tidak melakukan yang tidak bermanfaat, apalagi nan merugikan, baik diri sendiri maupun anak adam lain. “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah kemampuannya meninggalkan apa yang enggak bermanfaat baginya,” demikian perbuatan nabi nabi muhammad Nabi kita, Muhammad saw. Di samping hadîts di atas yang menceritakan makruf yang kali sepele, juga ada hadîts enggak yang menjelaskan perbuatan jahat yang mungkin dianggap sepele, tapi pelakunya akan disiksa di neraka, yakni hadîts berikut “Seorang perempuan diazab karena ia menerungku seekor kucing sehingga kucing tersebut tenang kelaparan, maka perempuan turut neraka karena itu”. Hadîts ini berisi pesan moral agar kita bukan menyepelekan polah jahat sekecil apa lagi, karena dapat saja ulah virulen itu berbuah buruk. *Penulis adalah dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora; Majikan Pusat Eksplorasi dan Siaran Ilmiah LP2M UIN Antasari Banjarmasin
Contoh Perbuatan Baik – Perbuatan manusia terdiri dari dua, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Perbuatan baik jika dilakukan akan mendapat pahala dan berbagai macam manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan perbuatan buruk akan memberikan dosa dan banyak efek negatif seperti permusuhan, perpecahan, hingga masalah. Perbuatan baik dapat dilihat dari perilaku dan kebiasaan seseorang sehari-hari di lingkungan masyarakat, rumah, maupun sekolah. Perbuatan baik erat kaitannya dengan sikap saling menolong, menyayangi, menghormati, jujur, amanah, serta rendah hati. Membiasakan perbuatan baik sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang bahagia, tentram, rukun, dan rasa saling menyayangi antara satu orang dengan orang lain. Selain itu, perbuatan baik juga membuat kita dipercaya dan disukai orang lain, sehingga kita bisa memiliki banyak teman dan hubungan dengan siapa saja. Nah, kali ini kita akan membahas berbagai contoh perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, serta di lingkungan masyarakat. Seperti apa contohnya? Silakan simak penjelasan berikut ini. 1. Menolong Orang yang Kesusahan atau Tertimpa Masalah Yang pertama, kita harus membiasakan diri menolong orang yang kesusahan atau mendapat banyak sekali masalah, entah itu teman, saudara, atau tetangga sekitar. Caranya adalah kita perlu melakukan tindakan yang sekiranya dapat meringankan beban yang mereka tanggung. Menolong orang lain akan memberi manfaat juga bagi diri kita, sebab orang lain akan ringan tangan menolong kita saat kita dalam masalah. Hal tersebut merupakan bentuk balas budi dari orang lain jika kita suka menolong tanpa pamrih. 2. Berbicara Menggunakan Bahasa yang Halus dan Sopan Saat berbicara dengan siapapun, usahakan kita memakai bahasa yang sopan dan halus. Hindari menggunakan bahasa yang kasar dan suara yang keras, sebab hal tersebut dapat menyinggung atau menyakiti hati orang lain. 3. Taat dan Patuh terhadap Orang Tua Taat dan patuh perintah orang tua juga merupakan perbuatan baik yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap seperti ini juga termasuk kewajiban seorang anak dalam memuliakan dan menghormati kedua orang tua selagi masih ada. 4. Berkata Jujur kepada Siapa Saja Bila berbicara, hendaknya kita jujur dengan menyampaikan sesuatu sesuai fakta dan kenyataan. Kita harus menghindari perkataan yang berisi kebohongan, sebab berbohong dapat merugikan diri sendiri juga menimbulkan dosa. 5. Suka Menjaga Kebersihan Lingkungan Berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari selanjutnya adalah suka menjaga kebersihan lingkungan. Kita bisa memulai dari hal yang sangat sederhana, yakni membuang sampah di tempat sampah, mengambil sampah di lingkungan sekitar kemudian membuangnya di tempat sampah, membersihkan rumah, membersihkan halaman, menjaga alam sekitar, dan sebagainya. 6. Memberi Makan Hewan yang Kelaparan Jika kita bertemu hewan yang kelaparan di mana pun itu, kita hendaknya berbuat baik dengan memberi makan hewan kelaparan. Sikap ini melatih kita untuk menjadi orang yang peduli terhadap sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan. Selain itu, membiasakan diri memberi makan kepada hewan yang kelaparan juga akan memberikan kita pahala. 7. Menyapa atau Mengucapkan Salam saat Bertemu Orang Lain di Jalan Berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari berikutnya adalah menyapa atau mengucapkan salam ketika bertemu orang lain di jalan, entah itu teman, saudara, atau tetangga. Menyapa orang lain saat bertemu akan menciptakan rasa saling menghormati dan mempererat hubungan kita dengan orang lain. 8. Membantu Orang Tua atau Anak-Anak Menyeberang Jalan Selanjutnya, bila kita melihat ada orang tua kakek/nenek dan anak-anak yang kesulitan menyeberang jalan, maka kita hendaknya membantu mereka menyeberang. Perilaku ini memberi manfaat besar bagi orang lain, yakni memberi rasa aman dan keselamatan bagi mereka. 9. Memberi Maaf kepada Orang yang Berbuat Salah Meskipun orang lain menyakiti hati atau berbuat salah kepada kita, hendaknya kita memaafkan kesalahan yang mereka buat. Jika kita mau memaafkan orang lain, maka kita akan mendapat pahala serta lebih disukai orang lain. 10. Berteman dengan Siapa Saja Tanpa Membeda-bedakan Ketika mencari teman, kita hendaknya tidak membeda-bedakan mereka berdasarkan agama, ras, suku, budaya, bahasa, ataupun golongan. Kita bisa berteman dengan siapa saja asal mereka tidak jahat dan tulus dalam menjalin pertemanan dengan kita. 11. Menjenguk Orang Sakit Bila ada teman, saudara, atau tetangga yang sakit, hendaknya kita menjenguk mereka. Adab dalam menjenguk orang sakit adalah membawakan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, menghibur orang sakit, memberi semangat, serta mendoakan mereka. 12. Membantu Orang Lain yang Kesulitan Mengangkat Barang Jika kita melihat orang yang kesulitan mengangkat barang, maka kita harus menolongnya dengan membantu mengangkat sebagian barang yang mereka bawa. Walaupun terkesan sederhana, namun hal ini merupakan perbuatan baik yang sangat disukai orang lain. Contoh Perbuatan Baik di Sekolah 1. Patuh terhadap Perintah Guru Contoh sikap baik di sekolah yang pertama adalah mematuhi perintah yang diberikan oleh guru. Guru merupakan sosok orang tua kita di rumah, jadi guru harus dipatuhi seperti kita patuh terhadap orang tua di rumah. Ketika guru menyuruh kita mengambilkan buku, maka kita harus segera melaksanakannya, begitu juga dengan perintah-perintah yang lain. 2. Membelikan Jajan bila Teman Lupa Bawa Uang Jika ada teman yang lupa membawa uang saku ke sekolah, maka kita harus membelikan jajan makanan/minuman, sehingga mereka tidak lapar dan haus selama di sekolah. Perbuatan baik ini akan selalu diingat oleh teman, mereka pun akan dengan senang hati membelikan kita jajan saat kita lupa membawa uang sebagai bentuk balas budi. 3. Menaati Peraturan dan Tata Tertib Sekolah Perbuatan baik di sekolah selanjutnya adalah menaati setiap peraturan dan tata tertib yang ada di sekolah. Peraturan tersebut bisa berupa memakai seragam rapi, memakai sepatu hitam, masuk sekolah sebelum bel berbunyi, dan masih banyak lagi. 4. Berdiri dan Memberi Hormat jika Guru Lewat Ketika ada guru yang lewat di depan kita, maka hendaknya kita berdiri dan memberi hormat kepada guru. Sikap baik seperti ini merupakan bentuk penghormatan terhadap orang yang telah berjasa memberi ilmu kepada kita. 5. Mengajari Teman yang Kesulitan Memahami Pelajaran Selanjutnya bila ada teman yang kesulitan memahami materi pelajaran, maka kita harus mau mengajari mereka apa yang kita bisa. Misal jika teman kesulitan memahami rumus matematika, maka kita perlu mengajari bagaimana cara mengerjakan rumus tersebut dengan baik dan benar. 6. Memperhatikan dengan Baik saat Guru Mengajar Ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran, kita hendaknya fokus dan memperhatikan guru. Sikap ini harus selalu kita lakukan di lingkungan sekolah, agar kita mudah menyerap berbagai macam ilmu yang telah disampaikan guru. 7. Tidak Memotong Pembicaraan Guru Bila ada guru yang sedang berbicara, kita harus mendengarkannya dengan baik dan tidak memotong pembicaraan guru. Tidak sopan memotong pembicaraan, terlebih kepada orang yang lebih tua, terhormat, atau berilmu. 8. Membuang Sampah pada Tempatnya Di lingkungan sekolah, kita harus selalu menjaga kebersihan dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Kemudian jika kita melihat sampah yang terjatuh, maka hendaknya kita mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. 9. Tidak Menghina dan Mencela Teman yang Kekurangan Fisik Bila ada teman yang cacat fisik atau kekurangan fisik, kita harus tetap menghargai dan menghormati mereka. Jangan sampai kita menghina dan mencela kekurangan fisik mereka. Kita harus tetap berteman dengan tulus tanpa memandang fisik maupun kekurangan orang lain. 10. Menjenguk Teman Sekolah yang Sakit Perbuatan baik selanjutnya adalah menjenguk teman yang sakit dengan membawakan sesuatu yang bermanfaat atau dibutuhkan olehnya. Menjenguk teman sakit biasanya dilakukan oleh seluruh teman kelas, sehingga teman yang sakit akan merasa bahagia dan tumbuh semangatnya untuk cepat sembuh. 11. Membantu Guru yang Kesusahan Mengangkat Barang Selanjutnya, jika kita melihat guru kesulitan mengangkat suatu barang, maka kita harus membantu mengangkat sebagian barang tersebut. Membiasakan berbuat baik walaupun sederhana seperti ini tentu menjadikan kita lebih peduli dengan keadaan orang sekitar. 12. Menghibur Teman yang Bersedih Jika ada teman yang sedang bersedih karena suatu hal, maka kita harus menghibur mereka dan berusaha meringankan beban yang mereka hadapi. Setidaknya sebagai teman, kita harus bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, termasuk kebahagiaan dan kesedihan. 13. Berbicara dengan Sopan dan Halus terhadap Warga Sekolah Dengan teman, guru, staf, ataupun pegawai di sekolah, hendaknya kita memakai bahasa yang sopan dan halus. Artinya, kita jangan sampai memakai bahasa yang kasar, kotor, atau berbicara dengan suara keras. 14. Menolong Teman yang Terjatuh Bila melihat teman yang tersandung dan jatuh, maka kita harus segera menolong teman tersebut untuk bangun. Sangat sampai kita menjadikan hal tersebut sebagai bahan candaan dan menertawakan teman yang terjatuh. 15. Meminjamkan Barang jika Teman Ingin Meminjamnya Kemudian, jika teman ingin meminjam barang milik kita pensil, pena, buku, dll, maka kita perlu meminjamkannya untuk mereka. Hal ini merupakan perbuatan baik di sekolah yang penting dilakukan untuk menciptakan pertemanan yang erat. 16. Mengumpulkan Dana untuk Membantu Teman yang Terkena Musibah Biasanya sekolah-sekolah mengadakan amal bakti atau pengumpulan dana untuk membantu warga sekolah yang terkena musibah. Oleh sebab itu, kita harus ikhlas menyisihkan sedikit uang untuk meringankan beban yang sedang diderita teman. 17. Mengembalikan Uang Milik Teman yang Terjatuh Perbuatan baik juga bisa ditunjukkan dengan sikap kita mengambilkan sesuatu yang merupakan hak orang lain. Misalnya ketika melihat uang milik teman terjatuh, maka kita harus segera mengembalikannya. Jangan sampai kita mencuri uang tersebut, meskipun jumlahnya kecil. 18. Ikut Mengerjakan Tugas Kelompok Bila ada tugas kelompok, maka kita harus ikut serta mengerjakan tugas tersebut bersama teman. Jangan sampai kita hanya berpangku tangan dan menyuruh teman yang mengerjakan. Ikut mengerjakan tugas kelompok akan membuat kita tahu susahnya menyelesaikan tugas-tugas tersebut. 19. Tidak Menyontek saat Ujian Perbuatan baik di lingkungan sekolah selanjutnya adalah tidak menyontek ketika ulangan atau ujian. Oleh sebab itu, kita harus belajar dengan giat dan mempersiapkan diri di rumah sebelum menghadapi ujian esok hari. 20. Menjaga Rahasia Teman Ketika teman bercerita tentang rahasia mereka, maka kita harus menjaga rahasia tersebut. Jangan sampai kita membocorkan rahasia milik teman ke orang lain, sebab hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan teman terhadap diri kita. 21. Mengumpulkan Tugas dan PR Tepat Waktu Contoh perbuatan baik di sekolah juga ditunjukkan dengan kebiasaan kita mengumpulkan tugas dan PR tepat waktu. Oleh sebab itu, tugas harus dikerjakan jauh-jauh hari sebelum waktu pengumpulan dan PR hendaknya dikerjakan di rumah, bukan di sekolah. 22. Mengembalikan Barang Teman jika Meminjam Selanjutnya, jika kita meminjam barang milik teman, entah itu pensil, buku, atau penghapus, maka kita harus segera mengembalikannya jika sudah selesai. Jangan sampai kita merusak, menghilangkan, atau pura-pura lupa dengan barang yang dipinjam dari teman. 23. Diam dan Tidak Berisik di Kelas Kita juga harus berusaha diam dan tidak berisik saat berada di kelas. Hal ini bertujuan agar kegiatan belajar-mengajar di kelas dapat berlangsung dengan baik, guru merasa dihormati, serta tidak mengganggu kelas sebelah. 24. Mengikuti Kegiatan Bersih-Bersih Lingkungan Sekolah Bila sekolah mengadakan kegiatan rutin membersihkan lingkungan, maka kita harus ikut serta dalam hal tersebut. Hal ini termasuk dalam perbuatan baik yang manfaatnya banyak, mulai dari mempererat hubungan sosial, menciptakan lingkungan bersih, serta melatih diri untuk menyukai kebersihan. 25. Memaafkan Teman Bila Punya Salah Berbuat baik di lingkungan sekolah bisa dilakukan juga dengan membiasakan diri memberi maaf kepada teman yang pernah berbuat salah kepada kita. Memaafkan adalah pilihan terbaik, daripada kita dendam atas hal buruk yang orang lain lakukan pada kita. 26. Berteman dengan Siapa Saja Tanpa Membeda-bedakan Berteman tidak boleh membeda-bedakan agama, ras, suku, budaya, golongan, ciri fisik, dan perbedaan lainnya. Kita harus menjalin pertemanan yang tulus dengan apa saja yang ada di sekolah. Yang terpenting adalah orang tersebut baik, tidak jahat, serta tulus juga dalam berteman. 27. Melerai Pertengkaran yang Terjadi di Sekolah Ketika melihat perselisihan atau pertengkaran di lingkungan sekolah, hendaknya kita memisahkan mereka. Namun jika dirasa tidak mampu, maka kita bisa melaporkan hal tersebut kepada guru pengajar atau guru BK. 28. Mengetuk Pintu dan Mengucapkan Salam Sebelum Masuk Ruangan Guru Sebelum masuk ke kantor guru, kita harus terlebih dahulu mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Jika guru memberi izin untuk masuk, maka kita baru boleh masuk dengan sikap yang sopan, penuh hormat, serta tidak berisik di ruang guru. 29. Mengucapkan Terima Kasih bila Teman Menolong Ketika ada teman yang menolong kita saat kita sedang kesusahan, maka kita tidak boleh lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Begitu juga dengan bantuan-bantuan sederhana yang teman berikan, kita harus membiasakan diri mengucapkan terima kasih. 30. Datang Pagi saat Ada Jadwal Piket Kelas Perbuatan baik di sekolah juga ditunjukkan dengan melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab kita. Salah satunya adalah mengerjakan tugas piket saat jadwalnya telah tiba, untuk itu kita harus berangkat lebih pagi dari biasanya untuk menyelesaikan piket lebih awal sebelum siswa lain masuk kelas. Contoh Perbuatan Baik di Masyarakat 1. Menghadiri Undangan Tetangga Jika kita diberi undangan tetangga untuk acara hajatan, nikah, syukuran, atau yang lainnya, maka kita harus meluangkan waktu untuk hadir ke acara tersebut. Menghadiri undangan juga termasuk perbuatan baik yang dapat meningkatkan kedekatan kita dengan tetangga. 2. Menjenguk Tetangga yang Sakit Bila ada tetangga yang sakit, hendaknya kita menjenguk mereka. Jangan lupa juga untuk membawa sesuatu seperti makanan atau uang untuk diberikan ke orang sakit, sebab hal tersebut merupakan salah satu adab menjenguk orang sakit. 3. Menyapa Tetangga saat Bertemu di Jalan Selanjutnya, jika bertemu tetangga di jalan, hendaknya kita menyapa dengan sopan. Membiasakan diri menyapa tetangga dapat menciptakan kedekatan hubungan dalam masyarakat serta memperkuat kerukunan. 4. Berbagi Makanan dengan Tetangga Selanjutnya, kita perlu berbagi makanan dengan tetangga jika ada makanan lebih yang layak untuk dikonsumsi. Bisa juga ketika ada acara di rumah, maka kita tidak boleh lupa untuk memberi ke tetangga sekitar. 5. Tidak Mengganggu Ibadah Tetangga yang Beda Agama Bila ada tetangga sekitar kita yang berbeda agama, maka kita harus tetap menghormati dan menghargai mereka. Salah satu caranya adalah dengan tidak mengganggu ketika tetangga beda agama sedang menjalankan ibadah. 6. Mengucapkan Salam dan Mengetuk Pintu jika Berkunjung ke Rumah Tetangga Berikutnya, saat kita berkunjung ke rumah tetangga, maka kita harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Jika tetangga sudah memberi izin untuk masuk, maka kita baru boleh memasuki rumah tetangga dengan tetap menjaga adab kesopanan. 7. Mengikuti Kegiatan Gotong-Royong di Desa Berbuat baik di lingkungan masyarakat juga bisa dilakukan dengan ikut serta kegiatan gotong-royong seperti membersihkan desa, membangun tempat ibadah, membersihkan sungai, dan sebagainya. Kegiatan gotong royong juga akan menciptakan kerukunan dan kedekatan sosial di masyarakat. 8. Menghargai Pendapat Orang Lain dalam Rapat/Musyawarah Ketika kita mengikuti rapat/musyawarah desa, maka kita harus menghargai pendapat yang dikeluarkan orang lain. Tidak boleh kita merasa pendapat pribadi paling benar atau memaksakan pendapat sendiri kepada orang lain. 9. Tidak Memutar Musik Keras karena Mengganggu Tetangga Dalam menjalani kehidupan bertetangga, kita juga harus mengerti hal sederhana seperti tidak memutar musik terlalu keras dengan tujuan supaya tetangga tidak merasa terganggu. Walaupun sepele, namun hal ini sangat penting untuk dilakukan untuk menjaga kerukunan dengan tetangga. 10. Berbelasungkawa dan Melayat bila Ada Tetangga yang Meninggal Jika ada tetangga sekitar yang meninggal dunia, maka kita harus ikut merasakan kesedihan dan berbelasungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, kita juga perlu meluangkan waktu untuk melayat sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. 11. Mendermakan Uang kepada Orang yang Kurang Mampu Contoh perbuatan baik di lingkungan masyarakat selanjutnya adalah mendermakan uang kepada orang-orang yang kurang mampu. Terlebih lagi kepada saudara, tetangga, dan orang yang ada di sekitar kita. 12. Bersikap Sopan Santun terhadap Siapa Saja Di lingkungan masyarakat, kita harus membiasakan diri bersikap sopan santun terhadap siapa saja. Contohnya adalah dengan berkata yang sopan, mendahulukan orang yang lebih tua, tidak memotong pembicaraan, dan sebagainya. 13. Ikut Donasi untuk Korban Bencana Alam Ketika ada galangan dana untuk korban bencana alam, kita sepatutnya ikut memberi donasi dengan ikhlas sesuai dengan kemampuan kita. Setidaknya dana yang dikumpulkan masyarakat banyak dapat meringankan beban orang lain yang terkena musibah. 14. Meminjamkan Kendaraan bila Tetangga Sangat Membutuhkannya Misalnya ketika ada tetangga yang sakit, maka kita harus meminjamkan kendaraan kepada tetangga supaya bisa dibawa ke rumah sakit. Hal seperti ini sangat penting untuk kita lakukan, sebab keselamatan nyawa tidak boleh kita anggap remeh. 15. Menyingkirkan Paku di Jalan Contoh berbuat baik di lingkungan masyarakat juga bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni menyingkirkan batu, paku, atau benda lain di jalan yang dapat mencelakakan orang. Contoh Perbuatan Baik di Tempat Kerja 1. Menyelesaikan Tugas dan Tanggung Jawab Kerja Di tempat kerja, kita harus menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab tentang pekerjaan yang kita jalani. Setiap tugas harus dikerjakan dengan baik dan benar, serta tidak lupa dengan berbagai macam tanggung jawab saat di tempat kerja. 2. Bergaul Bersama Teman Kerja dengan Baik Selanjutnya, kita perlu menjalin pergaulan bersama teman kerja dengan baik. Caranya adalah dengan tidak membeda-bedakan teman kerja, saling menghormati, saling memahami, dan tolong-menolong. 3. Tidak Menyia-nyiakan Waktu saat Bekerja Kita juga perlu memakai waktu dengan baik selama jam kerja berlangsung. Kita tidak boleh membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak penting. Tujuannya agar hasil dan kualitas kerja kita bisa maksimal. 4. Mematuhi Atasan Berikutnya, kita juga perlu patuh terhadap perintah dan tugas-tugas yang diberikan oleh atasan. Kita perlu berusaha tidak membantah dan melaksanakan tugas dengan baik dan benar. 5. Jujur dalam Bekerja Sikap jujur juga sangat penting diterapkan di lingkungan kerja. Kita harus jujur dalam berbagai hal terhadap siapa saja yang ada di lingkungan kerja mulai dari teman kerja hingga atasan. 6. Mengajari Teman Kerja yang Baru Masuk Bila ada teman kerja yang baru masuk, maka kita perlu mengajari mereka tentang pekerjaan dan cara-caranya. Tak lupa juga kita harus menjalin interaksi atau pergaulan dengan teman kerja baru, supaya mereka betah dan merasa dihormati. Penu tup Sekian pembahasan kali ini tentang contoh perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, sekolah, masyarakat, dan tempat kerja. Kesimpulannya, perbuatan baik harus selalu kita lakukan di mana saja karena berbuat baik akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
[ad_1] Jakarta, NU Online Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama ISNU H Ali Masykur Musa menegaskan perbuatan baik amar ma’ruf harus dilakukan dengan cara yang baik bil ma’ruf. Sikap ini penting agar tidak memunculkan masalah-masalah baru di masyarakat. Selain itu, jika sikap ini diselaraskan, maka seorang yang berbuat baik dengan cara yang baik dapat menjadi teladan oleh masyarakat. Pernyataan Ketua Umum ISNU ini merupakan respons atas terjadinya gerakan-gerakan di masyarakat yang mengaku menegakkan kebenaran tetapi cenderung membuat keributan di masyarakat. Menurut mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII ini, kelompok yang kerap melakukan perbuatan terpuji dengan cara yang tidak baik tidak dapat membedakan mana hak asasi manusia dan mana kewajiban warga negara. “Jadi amal ma’ruf ya bil ma’ruf, nahi munkar juga bil ma’ruf,” ucap Ketua Umum ISNU H Ali Masykur Musa saat menjadi pengisi acara pada kegiatan Multaqo Ulama Jakarta, Kamis 26/11 sore. Ia menjelaskan, hak asasi manusia dalam konteks bernegara harus satu nafas dengan kewajiban asasi manusia dalam beragama. Dengan demikian, ucapnya, maqashidu syariah yakni hifzhud din, hifzhun nafs, hifzhul aql, hifzhun nasl, dan hifzhul mal ketika diterapkan dalam bernegara menjadi sesuatu yang tepat untuk diikuti oleh masyarakat. H Ali menyebutkan, Undang-undang Dasar UUD 1945 sesungguhnya telah sesuai dengan maqashidu syariah tepatnya pada pasal 28 a sampai dengan 28 i terkait kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk hidup, dan kebebasan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. “Kebebasan untuk kita menjaga jiwa, ruh, nyawa, jangan membahayakan untuk orang lain,” ujarnya. Namun, kata dia, pemaknaan UUD 45 terkait kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama oleh sebagian kelompok disalah artikan. Mereka hanya memandang dalam satu sisi, hanya menguatkan pada pasal 28 bagian a-i saja. Sedangkan pasal 28 bagian c terkait pembatasan kebebasan untuk kebebasan orang lain tidak dijadikan sebagai dasar untuk hidup berbangsa dan beragama. “Ini lah yang menjadi balancing penyeimbang antara hak dan kewajiban dalam konteks bernegara,” tuturnya. Para ulama Jakarta melalui forum Multaqa Ulama Jakarta ini juga mengajak semua lapisan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan demi meminimalisasi penyebaran virus Corona di tengah masyarakat. Untuk diketahui, forum multaqa ulama Jakarta yang diadakan PWNU DKI dilaksanakan di Yayasan Arrahmah Center, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, sejak Kamis 26/11 pagi. Sehubungan dengan kegiatan keagamaan yang melibatkan massa, para ulama mengimbau masyarakat untuk sedapat tidak mengadakannya secara berkerumun. Para ulama Jakarta mendukung kebebasan berpendapat dan berekspresi. Namun, kebebasan tersebut harus diimbangi dengan kesadaran akan ketertiban dan keamanan bagi masyarakat yang lebih luas. Karena, ada kaidah yang menegaskan kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. “Ulama mendorong masyarakat untuk menjaga ketertiban umum di Jakarta untuk memutus mata rantai Covid-19,” kata Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif. Oleh sebab itu, berbagai ekspresi keagamaan diwajibkan untuk selalu mempertimbangkan ketertiban, keamanan dan kenyamanan masyarakat luas. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian Ulama Jakarta terhadap kondisi sosial-masyarakat yang sedang dihantam badai Pandemi Covid-19. Berangkat dari pesan keagamaan sebagai rahmat bagi seluruh alam, forum ini menegaskan bahwa ulama Jakarta selalu memikirkan kemaslahatan bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi warga Jakarta. Tampak hadir pengurus harian PWNU DKI Jakarta, Katib Syuriyah PBNU KH Zulfa Musthofa, Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan, Perwakilan Polda DKI Jakarta dan utusan Pangdam DKI Jakarta. Pewarta Abdul Rahman Ahdori Editor Muhammad Faizin [ad_2] Source link
bagaimana awal perbuatan yang baik